30% orang tua di DKI Jakarta mengizinkan anaknya bersekolah di sekolah kelas, apa alasannya?

Pemprov DKI Jakarta menyetujui pembatasan ruang kelas pada Rabu (7 April 2021). Proses tersebut dilakukan di 85 sekolah, mulai dari SD hingga SMA. Diketahui 30% orang tua mengizinkan anaknya mengikuti kelas tatap muka.

Demikian disampaikan Koordinator Nasional Persatuan Pendidikan

dan Guru (P2G) Satriwan Salim. Menurutnya, ada beberapa alasan mengapa orang tua mengizinkan anaknya mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah secara terbatas.

“Di DKI Jakarta umumnya diperbolehkan 30%,” kata Satriwan saat diwawancarai detikEdu, Senin (19 April 2021).
Baca juga:
Selengkapnya, Mendikbud Nadiem: Segera Jadikan PTM Terbatas!

Selain itu, Satriwan mengungkapkan alasan orang tua mengizinkan

anaknya bersekolah di sekolah dengan kelas terbatas adalah karena pelaksanaan ujian jarak jauh (PJJ) yang tidak efektif. Hal ini dikarenakan anak-anaknya tidak diberikan informasi pembelajaran yang lengkap.

“Akal sehat mereka menganggap PJJ tidak efektif karena kami sebenarnya menerima laporan masih ada satu dua guru yang tidak benar-benar melayani anak, tidak ada tanggapan,” jelasnya.

“Jadi orang tua berpikir untuk masuk, karena tidak ada pelayanan yang maksimal, kalau pelajaran hanya tugas, tidak ada umpan balik, itu menjadi beban bagi siswa,” ujar pria yang juga mengajar di SMA Labschool Jakarta ini.

Alasan kedua, kata Satriawan, orang tua dan anak sudah hampir satu tahun

bosan di rumah, apalagi banyak lembaga publik yang buka. Jadi orang tua mengizinkan anak-anak mereka pergi ke sekolah.

Kedua, siswa dan orang tua bosan, bingung, dan berargumen bahwa di luar sekolah mereka santai, ibadah boleh, dan pasar pun demikian. Jadi alasannya emosional dan membandingkan mengapa sekolah ketat, sehingga mereka lebih memilih untuk pergi ke sekolah, ”katanya.

Sementara itu, orang tua yang tidak mengizinkan anaknya mengikuti pelajaran di sekolah adalah wajar, mengingat angka positif virus corona di masyarakat, khususnya di wilayah Jakarta masih tinggi.

“Kami sedang selidiki, (orang tua) khawatir angka positifnya masih tinggi, 10% masih tinggi. WHO bilang di bawah 5% aman,” jelasnya.

Meski begitu, Satriwan mengapresiasi proses personal school di Jakarta. Karena dari total 800 sekolah di Jakarta, hanya 85 yang diperbolehkan buka. Oleh karena itu, pembukaan sekolah dilakukan dengan hati-hati.

Bandingkan dengan Kabupaten Bogor yang membuka 170 sekolah dari total 230 sekolah percontohan. “Pemprov DKI telah menyetujui 85 sekolah, yang berarti prinsip yang sangat hati-hati. Berbeda dengan di Kabupaten Bogor 170 sekolah dengan 230 sekolah, artinya sudah dibuka,” imbuhnya.

Dihubungi terpisah, guru SMA Negeri 1 Diponegoro Fandi Fuji Hariansah yang masuk daftar tes pribadi sekolah menjelaskan tentang pelaksanaan kegiatan tersebut. Fandi menyatakan, pengenalan PTM ini disambut baik oleh para orang tua siswa. Dari survei diketahui bahwa 80% orang tua mengizinkan anaknya mengikuti PTM terbatas di sekolah.

“Ya, koordinasi memberikan tautan ke Google, apakah Anda setuju atau tidak. Adapun persentasenya, 80% setuju, 10% tidak setuju, dan 10% ragu-ragu,” jelas Fandi.

Ia mengungkapkan, proses belajar mengajar dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Bahkan, semua guru juga mendapat vaksin COVID-19. Sehingga memenuhi syarat untuk melaksanakan ujian tatap muka di sekolah.

Sebagai contoh penerapan di sekolahnya, ia mencontohkan pembagian siswa dalam satu kelas menjadi tiga kelas dengan jumlah maksimal 12 orang. Setiap minggu tumpukan yang masuk dibalik untuk menghindari kepadatan di sekolah.

“Jadi sekolah kami mengandalkan PTM seminggu sekali untuk prosesnya. Kemarin, Senin, kelas 11 dan ini Minggu, Senin, kelas 10 dirotasi,” jelas Fandi.

Fandi juga mengungkapkan bahwa murid-muridnya tidak diberikan semua pelajaran. Dalam proses belajar mengajar, hanya mata pelajaran tertentu yang menjadi latar depan, seperti matematika, fisika, kimia, geografi, dan ekonomi.

Namun, Fandi menyoroti kurangnya tenaga (SDM) guru karena adanya pembagian kelas. Terakhir, guru yang biasanya mengajar di kelas lain juga harus mengajar mata pelajaran yang sama.

“Setelah sekolah dibubarkan, berdampak pada kuota guru dan guru kelas lainnya ditugaskan ke kelas, seperti guru ekonomi untuk mengoordinasikan materi,” katanya.
Baca juga:
Pers

LIHAT JUGA :

https://www.starpetrochem.co.id/185-63-l53-200/
https://www.starpetrochem.co.id/yowhatsapp-apk/
https://www.starpetrochem.co.id/whatsapp-plus/
https://www.starpetrochem.co.id/vidmateid/
https://kebangkitan-nasional.or.id/gb-whatsapp/
https://kebangkitan-nasional.or.id/whatsapp-aero/
https://kebangkitan-nasional.or.id/aplikasi-sadap-wa/
https://kebangkitan-nasional.or.id/aplikasi-penghasil-uang/
https://kebangkitan-nasional.or.id/aplikasi-penghasil-saldo-dana/
https://kebangkitan-nasional.or.id/bokeh-museum-sexxxxyyyy-18-se-2021/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar